Ikut Shalat Berjamaah Dengan Yang Sedang Shalat Sunnah

Assalamualaikum wr. wb.
Ustadz yang dimuliakan Allah, saya ingin menanyakan dua hal :
  1. Bolehkah kita ikut bergabung salat wajib dengan orang yang sedang melaksanakan shalat sunnah ba`diah ?
  2. Bagaimanakah sebaiknya sikap kita apabila kita sedang shalat sunnah ba`diah dan tiba-tiba ada seseorang dibelakang kita yang menyentuh pundak kita untuk ikut salat (wajib) berjamaah ?
Maulana

Jawaban

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Saudara Maulana yang dimuliakan Allah SWT
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum melaksanakan shalat fardhu dibelakang orang yang shalat nafilah (sunnah) dan pendapat yang kuat dalam hal ini adalah dibolehkan berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Jabir bin Abdullah bahwa di dalam peperangan Dzatur Riqo Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan shalat dengan satu kelompok sebanyak dua raka'at lalu kelompok ini mundur, Kemudian beliau melanjutkan shalat dua raka'at dengan kelompok lain, sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat empat raka'at, sementara masing-masing kelompok shalat dua raka'at."

Di dalam menjelaskan hadits ini, Imam Nawawi mengatakan bahwa maknanya adalah beliau shallallahu 'alaihi wasallam melakukan shalat dengan kelompok pertama sebanyak dua rakaat kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam salam maka mereka pun salam. Demikian pula dengan kelompok yang kedua, dan shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang kedua adalah nafilah sedangkan (shalat) mereka adalah fardhu. Berdasarkan riwayat ini, maka Syafi’i dan para sahabatnya (madzhab Syafi’i) membolehkan melakukan shalat fardhu dibelakang orang yang shalat nafilah. (Syarh Muslim bi Syarhin Nawawi juz III hal 207)

Juga apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari 'Amr bin Dinar berkata; saya telah mendengar Jabir berkata; Mu'adz shalat bersama Rasulullah SAW, kemudian pulang lalu mengimami kaumnya. Suatu ketika dia shalat isya' memimpin mereka lalu membaca surat Al Baqarah, lalu bersandarlah seorang laki-laki dan pergi. Lalu Mu'adz mendapatinya, maka hal itu sampai pada Nabi SAW dan bersabda, "Apakah kamu akan menjadikan kabur orang yang shalat, Apakah kamu akan menjadikan kabur orang yang shalat!" atau bersabda, "Orang yang membuat fitnah, Orang yang membuat fitnah", dan menyuruh beliau dengan dua surat dari ausath mufassal (surat antara QOF sampai akhir mushaf). 'Amr berkata; saya tidak hapal keduanya.

Al Khattabi mengatakan bahwa didalam hadits terdapat bagian dari fiqih yang membolehkan shalat fardhu dibelakang orang yang shalat sunnah karena Muadz shalat fardhu bersama Rasulullah saw. Setelah Muadz mengerjakan shalat fardhu bersama Rasulullah saw, dia shalat bersama kaumnya dan itu adalah shalat nafilah (sunnah).

Jadi dibolehkan bagi anda melakukan shalat fardhu dibelakang orang yang shalat sunnah ba’diyah atau sunnah rawatib lainnya. Kemudian jika anda tengah melakukan shalat sunnah rawatib lalu ada seorang yang memberikan isyarat untuk bermakmum kepada anda maka tidak perlu anda membatalkan shalat anda akan tetapi hendaklah anda meneruskan shalat sunnah anda sesuai dengan apa yang anda niatkan sejak awal.

Wallahu A’lam.
Read More...

Libya Jadi Bahan Introspeksi Pemimpin Islam


Pemimpin Libya Muammar Gaddafi melakukan shalat berjamaah dalam perayaan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW di Tripoli, Minggu (13/2). (FOTO ANTARA/REUTERS/Ismail Zitouny)
"Berkuasa lebih dari 30 tahun bukanlah sesuatu yang Islami"
Yogyakarta (ANTARA News) - Peristiwa di Libya perlu menjadi bahan introspeksi para pemimpin dunia Islam agar tidak berlindung di balik simbol keislaman untuk mewujudkan tujuan yang tidak Islami, kata pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sidik Jatmika.

"Berkuasa lebih dari 30 tahun bukanlah sesuatu yang Islami. Pemimpin Islam yang baik adalah pemimpin yang mengimplementasikan nilai-nilai Islam, bukan malah menyalahgunakannya untuk kepentingan yang tidak Islami," katanya di Yogyakarta, Selasa.

Menurutnya, memang benar demokrasi dan Islam tidak sama, tetapi banyak nilai-nilai Islam dan demokrasi yang sama, terutama nilai universal seperti kesejahteraan dan transisi kekuasaan.

"Dalam peristiwa Libya saat ini hal terbaik yang perlu disiapkan adalah transisi kekuasaan sebaik mungkin tanpa kehilangan respek masyarakat terhadap Muamar Gaddafi dan rezimnya," katanya.

Ia mengatakan menilik sejarah, Libya dalam skala politik adalah "adik kandung" Mesir. Dalam banyak hal, Libya sangat terinspirasi Mesir.

"Muamar Gaddafi yang telah berkuasa di Libya lebih dari 41 tahun adalah pengagum berat pemimpin legendaris Mesir Gamal Abdel Nasser. Gaddafi dijuluki Nasser Kecil" katanya.

Selain itu, pola transisi kekuasaan di Libya juga serupa dengan di Mesir, yakni sama-sama menggulingkan raja yang berkuasa.

"Di Mesir, Husni Mubarak menggulingkan Raja Farouk pada 1951, dan 18 tahun kemudian diikuti Libya, di mana Muammar Gaddafi memimpin Revolusi Al Fatah untuk menyingkirkan Raja Idris," katanya.

Ditanya tentang kemungkinan kejatuhan Gaddafi seperti yang terjadi pada Mubarak, ia mengatakan hal itu sangat mungkin. Musuh terbesar Gaddafi saat ini adalah usia.

"Gaddafi sekarang berusia 68 tahun, dan tidak lagi sekuat dulu. Selain itu, rakyat Libya juga tidak sesolid belasan tahun lalu dalam mendukung Gaddafi, sehingga cepat atau lambat pemimpin Libya itu pasti jatuh," katanya.

Sebagian rakyat Libya berunjuk rasa menuntut Presiden Muammar Gaddafi mundur, yang membuat situasi di negara itu memanas. Situasi yang memanas di Libya telah menewaskan ratusan orang.

Peristiwa Libya terinspiriasi oleh Revolusi Melati di Tunisia dan Revolusi Nil di Mesir yang berhasil menggulingkan rezim yang sedang berkuasa.(*)



Antara News
Read More...

Link yang mungkin perlu Sobat baca

  • Silakan mampir sobat... maf blog niewbie nich...!!!